VoxYouths.com - Apa yang terjadi ketika perusahaan telekomunikasi raksasa berinvestasi di startup unicorn?
Ternyata nggak selalu berakhir manis. Telkomsel, si giant telko kita, ternyata mengalami kerugian besar dari investasinya di GOTO.
Ini bukan cuma masalah bisnis biasa, tapi udah jadi sorotan Indonesia Financial Watch (IFW). Yuk, kita bahas bareng-bareng!
Baca Juga: Catat! 5 Elemen Penting yang Bikin Bisnis Kamu Makin Jaya
Telkomsel dan GOTO: Investasi yang Bikin Pusing
Telkomsel, yang kita kenal sebagai provider sinyal andalan, ternyata punya sisi lain.
Mereka berinvestasi di GOTO, gabungan Gojek dan Tokopedia yang kita sering pakai buat order makanan atau belanja online.
Tapi nih, investasi ini malah bikin Telkomsel gigit jari.
Angka-angka yang Bikin Melongo
- Telkomsel beli saham GOTO seharga Rp 270 per lembar
- Total investasi: Rp 6,4 triliun (itu banyak banget lho!)
- Sekarang? Harga saham GOTO cuma Rp 50-an
Jadi, VoxYours bisa bayangin nggak, berapa besar kerugiannya?
Di kuartal II/2024 aja, Telkomsel udah rugi Rp 857 miliar yang belum direalisasi.
Itu artinya, uang yang tadinya ada, sekarang cuma ada di atas kertas.
IFW Angkat Bicara, Ada Apa di Balik Layar?
Indonesia Financial Watch (IFW), yang tugasnya ngawasin keuangan perusahaan-perusahaan besar, nggak tinggal diam.
Mereka curiga ada sesuatu yang nggak beres dengan investasi ini.
Apa Kata IFW?
Abraham Runga Mali, koordinator IFW, bilang:
- Telkomsel punya 23,7 miliar lembar saham GOTO
- GOTO sendiri rugi Rp 209,7 triliun per 31 Maret 2024
- IFW minta penegak hukum periksa, jangan-jangan ada fraud
GOTO: Unicorn yang Terseok-seok
GOTO, yang tadinya dianggap sebagai unicorn kebanggaan Indonesia, ternyata punya cerita sendiri.
Artikel Terkait
Starlink Bakal Bayar Rp23 Miliar per Tahun untuk BHP ISR, Kok Beda sama BHP Seluler?
Produk Umpan BAM Adun Mancing: Rahasia Sukses Para Pemancing PRO
Memahami Major Trend, Primary Trend, dan Main Trend dalam Investasi: Panduan Singkat untuk Pemula
Pemerintah Berencana Naikan Bea Masuk 200 Persen Untuk Produk Tekstil China, Solusi atau Bumerang bagi Ekonomi Indonesia?