Pemerintah juga terus memberikan edukasi kepada warga agar tetap tenang tapi tetap waspada.
"Pemeriksaan juga akan diperluas menunggu hasil pemetaan dari BAPETEN dan BRIN," jelas Aji dalam keterangan resmi pada Jumat 3 Oktober 2025.
Baca Juga: Mengenal ILI UT: Keunggulan dan Prospek Teknologi Migas Masa Depan
Alur Penanganan Medis Paparan Radiasi
Aji juga menjelaskan kalau penanganan kasus paparan Cesium-137 ini nggak sembarangan, ada sistem deteksi berlapis yang diterapkan.
Sebagai tahap awal, petugas menggunakan alat deteksi bernama surveymeter untuk mengecek paparan radiasi di tubuh dan pakaian.
Jika positif, pasien akan langsung menjalani proses pembersihan diri atau dekontaminasi, yaitu dengan mandi dan ganti pakaian bersih.
Pemeriksaan dilanjutkan dengan tes darah untuk melihat kadar sel darah putih (limfosit), yang bisa jadi penanda paparan radiasi.
"Jika kadar limfosit di bawah 1.500, maka dilakukan pemeriksaan WBC. Jika terindikasi serius, pasien dirujuk ke RS Fatmawati untuk penanganan lebih lanjut," jelas Aji.
Kemenkes juga mengingatkan, dampak jangka pendek paparan Cesium-137 ini bisa berupa mual, muntah, diare, sampai penurunan sel darah putih.
Sementara untuk jangka panjang, risikonya bisa memicu kanker dan gangguan kekebalan tubuh.
Tapi syukurlah, kasus yang ditemukan sejauh ini masih dalam tingkat yang bisa ditangani.
Baca Juga: KKMP Tukangkayu di Banyuwangi Jadi Percontohan: Belanja Sembako Lebih Murah dan Ada Layanan Digital
Imbauan Pemerintah untuk Warga
Pemerintah meminta kita semua untuk tetap tenang dan tidak ikut menyebarkan berita bohong atau hoaks.
Radiasi Cesium-137 ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, jadi perlu pemeriksaan medis untuk memastikannya.
Aji juga mengimbau masyarakat segera melapor ke tenaga kesehatan bila mengalami gejala mencurigakan.