Meskipun ada kesepakatan penurunan tarif, AS tetap melakukan penyesuaian strategis untuk sektor-sektor tertentu.
Beberapa sektor yang dianggap krusial seperti obat-obatan, semikonduktor, dan baja dinilai rawan dari segi rantai pasok, sehingga tetap dapat perhatian khusus.
Analis Ekonomi Terkejut dengan Keputusan Ini
Langkah pemangkasan tarif dagang AS-China ini bahkan di luar perkiraan banyak analis ekonomi.
Salah satunya Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management di Hong Kong.
"Ini di luar dugaan saya. Awalnya saya kira tarif hanya akan dipangkas menjadi sekitar 50 persen," kata Zhiwei Zhang dilansir dari artikel yang sama.
"Ini kabar sangat positif, tidak hanya untuk ekonomi China dan AS, tapi juga bagi ekonomi global. Investor kini jauh lebih tenang terhadap potensi gangguan rantai pasok dalam jangka pendek," jelasnya.
Kebijakan yang berlaku selama 90 hari ini mungkin jadi awal dari normalisasi hubungan dagang antara dua raksasa ekonomi dunia.
Kita tunggu aja perkembangan selanjutnya, apakah bakal diperpanjang atau justru kembali memanas!***
Baca Juga: Di Tengah Perang Dagang, Indonesia-Jepang Malah Perkuat Kerja Sama Lewat Proyek AZEC, Ada Apa?
Artikel Terkait
Siasat Indonesia Hadapi Tarif AS 32%, Bahlil: Kita Switch Impor BBM ke Amerika
QRIS dan GPN Jadi Sorotan Trump, Airlangga Tegaskan Indonesia Terbuka untuk Operator Global
LG Mundur dari Proyek Baterai RI, Pengamat: Jangan Remehkan IHSG!
AS-China Akhirnya Duduk Bareng di Jenewa, Perang Dagang Segera Berakhir?