"Beliau udah bilang pengen istirahat aja, nggak mau naik gunung lagi. Maunya di rumah aja sama keluarga," jelas Syaiful.
Kepergian Mbok Yem bukan cuma jadi kehilangan besar buat keluarga, tapi juga buat ribuan pendaki yang pernah mampir ke warungnya.
Warung sederhana di puncak Lawu itu bukan cuma tempat istirahat biasa, tapi udah jadi simbol keteguhan dan keramahan di tengah dinginnya gunung.
Sekarang, nasib warung yang udah berdiri puluhan tahun itu masih dalam pertimbangan keluarga besar. Belum ada keputusan pasti nih bakal dilanjutin sama generasi berikutnya atau nggak.
"Nanti kita omongin bareng-bareng sama keluarga besar. Sekarang fokus dulu buat lepas kepergian beliau," tambah Syaiful.
Mbok Yem udah jadi bagian yang nggak terpisahkan dari sejarah Gunung Lawu. Sosoknya yang sederhana, ramah, dan selalu semangat bikin dia lebih dari sekadar penjaga warung biasa.***
Artikel Terkait
Kisah Legenda di Gunung Tidar, "Pakunya Tanah Jawa": Mendaki Menuju Puncak Sejarah dan Jejak Spiritual
Menelusuri Jejak Suku Tengger: Tradisi, Budaya, dan Kehidupan di Kaki Gunung Bromo
Menjelajah Pesona Alam Puncak Jayagiri Lembang: Surga Tersembunyi di Kaki Gunung Tangkuban Perahu
Fakta Mengejutkan, Gunung Ciremai Meletus Setelah Gempa? Ini Kebenarannya!
Gunung Raung Dimana Sih? Semua Hal yang Perlu Kamu Tahu!