VoxYouths.Com - VoxYours, Donald Trump bikin heboh lagi nih! Kali ini, mantan presiden AS yang terkenal nyentrik ini bikin kebijakan yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala.
Di saat dunia lagi gencar-gencarnya beralih ke energi bersih, eh Trump malah ngotot pengen 'nyalain' lagi industri batu bara Amerika.
Yang bikin kaget, Trump langsung tancap gas dengan ngeluarin empat perintah eksekutif sekaligus.
Baca Juga: Trump 'Balas Dendam': Australia Kena Tarif 10% Gara-gara Tolak Daging Babi dari AS
Tujuannya? Buat nguatin posisi bahan bakar fosil, terutama batu bara yang dia sebut sebagai "batu bara yang indah dan bersih". Duh!
Dampaknya? Langsung kerasa di pasar! Harga batu bara melesat naik ke US$100,25 per ton (sekitar Rp2 juta) pada 8 April 2025. Naik 1,37% dalam sehari, lho!
Meski jadi satu-satunya komoditas energi yang naik, banyak yang nilai ini sebagai langkah mundur dalam perjuangan melawan perubahan iklim.
Apa Aja Sih Kebijakan Kontroversialnya?
Trump nggak main-main nih. Dia keluarin beberapa kebijakan yang bikin para aktivis lingkungan pusing:
Baca Juga: Trump 'Menggempur' 185 Negara dengan Tarif Balasan, China Kena 104%!
- Nunda penutupan pembangkit tua
- Percepat izin tambang di lahan federal
- Bikin dewan energi khusus buat potong aturan yang dianggap ribet
- Bahkan, dia perintahin investigasi ke negara bagian yang dianggap 'ganggu' industri batu bara
"Kita akhiri perang Joe Biden terhadap batu bara yang indah dan bersih, sekali dan untuk selamanya. Dan bukan cuma Biden, tapi juga Obama, dan yang lainnya," kata Trump dengan gaya khasnya, dikelilingi para penambang pada Rabu, 9 April 2025.
Batu Bara Bersih?
Para ahli lingkungan langsung angkat bicara nih. Mereka bilang istilah "batu bara bersih" yang dipake Trump itu menyesatkan banget.
Faktanya, pembakaran batu bara tetep aja ngeluarin emisi tinggi. Teknologi "bersih" yang dijanjiin? Masih jauh dari kata siap dan mahal banget buat diterapin.
Baca Juga: Miliarder Palestina Bashar Masri Digugat Terkait Serangan Hamas, Dituduh Bantu Bikin Terowongan
Dampak ke Depannya Gimana?
Yang bikin tambah pusing, kebijakan ini berpotensi bikin AS makin jauh dari komitmen Perjanjian Iklim Paris.