Tut Sur tiba-tiba menubruk lelaki itu, bersimpuh di pangkuannya dengan pertanyaan seorang anak yang haus akan jawaban:
"Ayah, ayah, kenapa ada luka di jidatku ini?"
Luka itu sudah ada sejak dia dilahirkan, tetapi kenapa dia baru bertanya sekarang?
Lelaki pemburu itu memegang kepala anaknya dengan kedua belah tangan dan dikecupnya bekas luka di jidat anak itu seolah dia ingin menghisapnya supaya tertelan ke dalam perutnya.
"Ya, Hyang Widhi. Kenapa tidak kau lubangi saja kepalaku agar anakku ini tidak menjalani siksa seumur hidupnya?"
"Ayah, ayah, kenapa ada bekas luka di jidatku? Apakah aku anak durhaka? Apakah aku Prabu Watugunung yang durhaka? Atau, apakah aku putera Dayang Sumbi?"
"Ah, siapakah yang mendongeng padamu, anakku? Ibumu bukan?" ***
Singaraja, 3 Agustus 2003
Analisis Sekuen Cerpen "Lelaki dengan Bekas Luka di Jidatnya"
1. Kesendirian sorang Ayah karena jauh dari anak-anaknya.
2. Penceritaan alasan kenapa sang Ayah jauh dari anak-anaknya.
2.1. Penjelasan alasan anak pertama pergi meninggalkan sang Ayah.
2.2. Penjelasan alasan anak kedua pergi meninggalkan sang Ayah.
2.3. Penjelasan alasan anak ketiga pergi meninggalkan san Ayah.
3. Penceritaan alasan mengapa sang Ayah hanya tinggal bersama anak bungsunya
3.1. Penceritaan masa lalu ketika istri sang Ayah mengandung anak terakhir.
3.1.1. Penjelasan mengapa sang Ayah berburu babi hutan.
3.1.2. Penceritaan peristiwa masa lalu ketika ada rombongan sekolah yang berkemah di hutan tempat sang Ayah berburu babi hutan.
3.1.3. Penceritaan perburuan sang Ayah
Artikel Terkait
Review Buku : Filosofi Teras Filsafat Yunani Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini
Contoh Analisis Puisi "Perkenankanlah Aku Mencintaimu" Karya Gus Mus
Puisi-Puisi Terkenal Karya Joko Pinurbo