1996
Perjamuan Khong Guan
Di kaleng khong guan
hidup yang keras dan getir
terasa renyah seperti rengginang.
Berkerudungkan langit biru,
ibu yang hatinya kokoh membelah
dan memotong-motong bulan
dan memberikannya
kepada anak-anaknya yang ngowoh.
Anak-anak gelisah
sebab ayah mereka
tak kunjung pulang.
”Ayahmu dipinjam negara.
Entah kapan akan dikembalikan,” si ibu menjelaskan.
Lalu mereka selfi di depan
meja makan: ”Mari kita berbahagia.”
Si ayah ternyata
sedang ngumpet di belakang,
menghabiskan remukan rengginang.
(Jokpin, 2019)
Joko Pinurbo adalah seorang maestro puisi kontemporer Indonesia yang telah memperkaya dunia sastra tanah air dengan karya-karyanya yang indah dan penuh makna.
Tulisan ini dibuat untuk mengantar kepergian Joko Pinurbo yang telah menghembuskan napas terakhirnya pada Sabtu pagi (27/4) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kepergiannya merupakan kehilangan besar, namun warisan abadinya akan terus menginspirasi dan menyentuh hati para pembacanya.
Selamat menempuh perjalanan pulang, Pak Joko Pinurbo. Karyamu abadi. Sugeng tindak.***
Artikel Terkait
Review Buku : Filosofi Teras Filsafat Yunani Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini
Contoh Analisis Puisi "Perkenankanlah Aku Mencintaimu" Karya Gus Mus