Nggak cukup sampai di situ, pemerintah juga menambahkan modal dengan menyuntikkan Obligasi Rekapitalisasi Perbankan senilai Rp60 triliun.
Saat itu, laba bersih BCA sebenarnya sudah sekitar Rp4 triliun, sehingga total uang negara yang tertanam di dalam BCA mencapai Rp87,99 triliun.
Tapi, ternyata saham mayoritas BCA kemudian dijual ke investor asing Farallon cuma seharga Rp10 triliun.
"Jadi pemerintah sebenarnya menanggung kerugian Rp78 triliun," tulis Kwik.
Selain itu, Kwik juga menyinggung masalah kredit macet Grup Salim yang nilainya mencapai Rp52,7 triliun.
Karena saham BCA udah diambil alih pemerintah, otomatis utang ini jadi tanggungan negara juga.
Keluarga Salim nggak bisa bayar utang dengan tunai, maka dibuatlah skema Pelunasan Kewajiban Pemegang Saham (PKPS) melalui Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA).
Dalam skema ini, Grup Salim menyerahkan Rp100 miliar uang tunai dan 108 perusahaan.
Tapi pada akhirnya, pemerintah cuma menerima Rp20 triliun dari total utang Rp52,8 triliun milik Grup Salim.
tu berarti cuma sekitar 34 persen aja! Sisa 66 persennya kemana? Ya udah, hangus deh.
Peralihan Saham BCA di Tahun 2002 dan 2007
Pada tahun 2002, pemerintahan Presiden Megawati memutuskan melepas 51 persen saham BCA ke publik.
Farallon, perusahaan investasi dari Amerika Serikat, jadi pemenang tender dengan harga Rp10 triliun.
Keputusan ini memang kontroversial karena dianggap terlalu murah mengingat investasi pemerintah yang udah puluhan triliun rupiah.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya 2007, Grup Djarum ngambil alih mayoritas saham BCA.
Artikel Terkait
38 Tahun HokBen: Dari Kebon Kacang ke Seluruh Indonesia, Begini Cerita Suksesnya!
5 Pelajaran Bisnis dari Hermanto Tanoko: Dari Jualan Tepung hingga Jadi Raja Cat dan Air Mineral
Rahasia Manis di Balik Snickers: Sosok Misterius John Mars dan Kekayaan Rp736,6 Triliun
Cara Beternak Ayam: Panduan Memulai Bisnis atau Kebutuhan Dapur Sendiri