travel-petualangan

Selamat Jalan Mbok Yem: Mengenal Sosok Wanita yang 40 Tahun Setia Menemani Para Pendaki di Puncak Lawu

Kamis, 24 April 2025 | 18:54 WIB
Nasib Warung Setelah Mbok Yem Meninggal Dunia. ((x.com/irfansugiharto_))

VoxYouths.Com - Kabar sedih nih VoxYours buat para pendaki Indonesia! Mbok Yem, sosok legendaris yang udah jadi bagian dari sejarah pendakian Gunung Lawu, meninggal dunia Rabu kemarin (23/4/2025).

Nenek yang berusia 82 tahun ini udah jadi ikon Lawu dengan warungnya yang ada di ketinggian 3.000 meter!

Buat yang belum tau Mbok Yem, dia tuh pemilik warung paling legendaris di Lawu. Posisinya? Gila sih, cuma 115 meter di bawah puncak Hargo Dumilah, puncak tertinggi Lawu!

Baca Juga: Pesan Terakhir 'Mamak Pendaki' Sebelum Mendaki Carstensz: 'Yang Penting Selamat Dulu Ya'

Siapa yang nggak kenal warungnya? Hampir semua pendaki pasti mampir, karena emang itu jadi spot istirahat terakhir sebelum nyampe puncak.

Agus, Kepala Dusun Cemoro Sewu, yang ngasih konfirmasi soal kepergian Mbok Yem. "Beliau udah sakit dan turun gunung sebelum puasa Ramadan kemarin. Habis itu dirawat di rumah sakit Ponorogo. Sebenernya Mbok Yem itu KTP-nya di Gonggang, Kecamatan Poncol," jelasnya.

Yang bikin beda tahun ini, Mbok Yem yang biasanya cuma turun gunung setahun sekali pas mau Lebaran, harus turun lebih cepat gara-gara kondisi kesehatannya drop sejak Februari.

Baca Juga: Danau Kelimutu: Keajaiban Tiga Warna yang Menyihir Mata, Ini Legenda dan Fakta Ilmiahnya!

Bahkan buat turun gunung aja, beliau harus dibantu enam orang yang gotong pake tandu. Padahal dulu, jalur itu udah kaya halaman rumah sendiri buat dia.

Sebelum meninggal, Mbok Yem sempet dirawat di RSUD Ponorogo, terus dipindah ke RSI Aisyiyah Ponorogo karena kena pneumonia.

Sempet ada harapan pas kondisinya membaik, tapi akhirnya Mbok Yem berpulang jam 15.30 WIB. Jenazahnya disemayamkan di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Magetan, dan bakal dimakamkan di TPU desa sana.

Cerita Mbok Yem di Lawu itu udah dimulai dari tahun 80-an lho! Awalnya dia cuma pedagang sembako biasa di kampung.

Baca Juga: Kenapa Gunung Jingshan Disebut Gunung? Ada Cerita Unik di Baliknya!

Naik gunung juga bukan buat jualan, tapi nyari bahan jamu sama rempah di hutan Lawu. Eh, lama-lama malah bikin pondok kecil yang akhirnya jadi warung.

Halaman:

Tags

Terkini