sastra

Membedah Novel Sri Sumarah dan Bawuk: Perbandingan Dua Sisi Perempuan Jawa dalam Karya Umar Kayam

Jumat, 28 Februari 2025 | 11:25 WIB
Perbandingan dua sisi perempuan Jawa dalam novel Sri Sumarah dan Bawuk karya Umar Kayam. (stanbuku/AI)

Ketika tragedi Gerakan 30 September 1965 terjadi, orang-orang yang terlibat dalam PKI diberantas dan dibunuh.

Hal ini juga menimpa tokoh-tokoh dalam cerita Sri Suamarah dan Bawuk.

Selain itu, pengarang kelahiran Ngawi, Jawa Timur, 30 April 1932 ini, juga memasukkan unsur-unsur bernuansa lokal yakni kebudayaan Jawa.

Selain penggunaan sapaan atau istilah yang masyhur di masyarakat Jawa, Umar Kayam juga mencerminkan Sri Sumarah dan Bawuk sebagai perempuan Jawa yang tangguh.

Mereka mampu berperan seperti halnya lelaki dalam memepertahankan kehidupannya.

Melalui "Sri Sumarah dan Bawuk," Umar Kayam berhasil menghadirkan dua sisi perempuan Jawa yang berbeda, namun sama-sama kuat dan inspiratif.

Kedua novelet ini memberikan gambaran tentang kehidupan perempuan Jawa di masa lalu.

"Sri Sumarah dan Bawuk" juga memberikan pelajaran berharga tentang ketangguhan, kesetiaan, dan keikhlasan.

Karya-karya Umar Kayam ini tetap relevan hingga kini, mengajak kita untuk merenungkan nilai-nilai kemanusiaan dan sejarah bangsa.***

Baca Juga: Feminisme dan Peran Perempuan dalam Sri Sumarah: Antara Ketangguhan dan Tradisi

Halaman:

Tags

Terkini