Ada hal lain yang sama dari dua novelet Sri Sumarah dan Bawuk ini, yakni keduanya sama-sama bertemakan perempuan.
Ketangguhan perempuan menghadapi kehidupan ketika suaminya telah tiada.
Sri Sumarah ditinggal mati oleh suaminya sedangkan Bawuk terpaksa berpisah dengan suami karena suatu keadaan.
Dari cerita ini dapat diambil amanat bahwa kita harus konsekuensi terhadap pilihan hidup yang telah kita ambil.
Hal ini dicontohkan oleh Bawuk yang tetap berusaha mencari suaminya meskipun jalan yang dilalui sulit.
Menjadi seorang istri yang setia terhadap suami juga diperlihatkan oleh Bawuk dalam cerita ini.
Kesetiaan Bawuk dalam mendampingi Hassan, suaminya, tidak tergoyahkan meskipun hassan adalah dianggap sebagai pemeberontak dan buronan negara.
Keikhlasan Bawuk dalam menerima segala takdir yang telah digariskan juga menjadi pelajaran penting.
Di mana dia tidak pernah menyesal menikah dengan Hassan, dan meninggalkan dunia ‘kepriyayiannya’.
Baca Juga: Analisis Karya Sastra Novelet Bawuk: Jejak Kolonial dan Potret Perempuan Jawa Karya Umar Kayam
Latar Belakang Pengarang: Umar Kayam dan Refleksi Zaman dalam Sri Sumarah dan Bawuk
Latar tempat dan tahun yang diangkat dari dua novelet ini tidak lepas dari background Umar Kayam yang hidup di zaman penjajahan dan pergolakan 1965.
Dalam kedua novelet ini sama-sama disinggung tokoh yang terlibat dalam Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).
Dalam cerita Sri Sumarah, suami Tun yang bernama Yos adalah seorang tokoh CGMI dan Tun adalah anggota Gerwani.
Sedangkan dalam cerita Bawuk, suami Bawuk, Hassan adalah tokoh CGMI.
Meskipun Bawuk dia bukan anggota Gerwani, namun dia telah terbiasa akrab dengan orang-orang yang terlibat PKI lainnya.