"Yang diperlukan adalah kemauan untuk menjaga, merawat, dan mengolah tanah dengan bijaksana. Ketika alam dirawat, alam akan terus memberi kehidupan," sambungnya.
Seorang guru di Papua itu lantas mengingatkan, kita tidak harus menggantikan kebiasaan baik masyarakat atau mengorbankan keberagaman alam untuk hidup sehat.
"Justru dengan memanfaatkan potensi lokal secara bijak, kita dapat menikmati pangan yang bergizi sekaligus menjaga warisan alam bagi generasi berikutnya," jelas Ajup.
Tanda Rasa Syukur, Karakter yang Bertumbuh
Bagi Ajup, sayur dan buah yang dibawa anak-anak di sekolah bukan sekadar hasil kebun, melainkan sebagai simbol rasa syukur.
"Ada kasih, kerja keras, dan karakter yang sedang bertumbuh. Mereka mengajarkan bahwa memberi tidak harus menunggu berkelimpahan," sebutnya.
"Bahkan dari yang sederhana, kita tetap bisa menjadi berkat," terang Ajup.
Ajup berharap, ke depan semoga semakin banyak orang melihat Papua bukan sebagai daerah yang kekurangan, tetapi sebagai tanah yang kaya akan potensi dan penuh kehidupan.
"Dan dipenuhi orang-orang yang memiliki hati untuk berbagi," imbuhnya.
"Karena ada berkat di balik menjadi berkat bagi sesama, dan ada masa depan yang baik ketika manusia merawat alam yang telah Tuhan percayakan," tandas Ajup.***