news

Jelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Gus Miftah Tegaskan Istana Tak Intervensi dan Minta Klaim Restu Dihentikan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 22:20 WIB

VoxYouths.com - JOMBANG – Pendakwah Miftah Maulana Habiburrohman (Gus Miftah) menyambut positif penetapan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sebagai lokasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada 27–31 Agustus 2026. Menurutnya, penetapan ini menjadi momentum penting bagi NU untuk kembali ke akar sejarah pesantren.

Di tengah memanasnya bursa calon Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU, Pengasuh Ponpes Ora Aji ini menegaskan bahwa Presiden maupun Istana tidak melakukan intervensi atau terlibat dalam proses pemilihan tersebut.

"Sikap tegas ini bukan sekadar basa-basi politik. Istana sangat mengerti posisi. Menghormati marwah ulama bukan dengan cara ikut mengatur mereka, melainkan memberikan ruang kedaulatan penuh bagi para kiai," ujar Gus Miftah, Selasa (11/8/2026).

Minta "Jualan" Nama Istana dan Isu Intervensi Dihentikan

Gus Miftah menyentil pihak-pihak atau tim sukses yang kerap mengklaim telah mendapat "restu Istana" maupun "titipan pusat" demi merebut kepemimpinan di ormas Islam terbesar di dunia tersebut.

  • Mengotori Marwah: "Sangat tidak elok jika masih ada pihak-pihak yang bergerak di bawah tanah, berbisik di lorong Muktamar, lalu menjual nama Istana. Klaim semacam itu bukan hanya kurang etis, tetapi menodai kehormatan Presiden," tegasnya.

  • Hentikan Provokasi: Ia juga mengimbau oknum yang sengaja menghembuskan isu intervensi pemerintah untuk tidak mengeruhkan suasana forum suci para ulama.

  • Kritik Sosok Ambisius: Gus Miftah menyindir figur yang memaksakan diri maju meski dinilai belum memadai secara kapasitas dan rekam jejak kepemimpinan.

Ingatkan Pesan KH Hasyim Asy'ari Soal Ambisi Jabatan

Menyitir kitab Adabul 'Alim wal Muta'allim karya Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, Gus Miftah mengingatkan bahaya ambisi mengejar kekuasaan di tubuh NU melalui kaidah "Man thalaba al-riyasata fadhahahu Allahu" (Siapa yang ambisius mengejar jabatan kepemimpinan, maka Allah akan menghinakannya).

"Kekuasaan di NU itu bukan untuk direbut, melainkan amanah berat yang digotong atas dasar khidmah (pengabdian). Ketika seseorang belum mumpuni namun memaksakan diri dengan menunggangi klaim 'restu Istana', ia sedang meruntuhkan wibawanya sendiri," tuturnya.

Ia berharap Muktamar ke-35 NU di Tambakberas berjalan bersih dari politik transaksional, serta menyerahkan seluruh keputusan murni kepada pertimbangan Syuriyah dan para muktamirin.***

Tags

Terkini