Keempat, apabila seseorang menginginkan kemuliaan dan keberkahan hidup, Allah memerintahkan:
"Fastabiqul khairāt" ("Berlomba-lombalah dalam kebaikan."), (QS. Al-Baqarah: 148).
Islam mengajarkan kompetisi, tetapi kompetisi dalam amal saleh, bukan dalam kesombongan atau kerakusan. Semakin besar kontribusi seseorang bagi masyarakat, semakin luas pula pintu keberkahan yang Allah bukakan baginya.
Di sinilah letak keindahan ajaran Islam. Al-Qur'an selalu memasangkan antara tujuan dan ikhtiar. Rezeki ditempuh dengan bekerja. Ampunan diraih dengan bersegera bertaubat. Kedekatan kepada Allah dibangun melalui zikir. Kemuliaan diperoleh dengan berlomba dalam kebajikan. Tidak ada hasil tanpa usaha, tetapi tidak ada pula usaha yang membuahkan hasil tanpa izin Allah.
Dalam konteks kehidupan modern, pesan ini menjadi sangat penting. Banyak orang mengalami burnout, stres, bahkan kehilangan integritas demi mengejar materi. Sebagian menghalalkan segala cara karena merasa rezekinya bergantung pada kecerdikannya sendiri. Sebaliknya, ada pula yang pasif dengan alasan tawakal, padahal Islam tidak pernah mengajarkan kemalasan.
Tauhid tentang rezeki mengajarkan keseimbangan. Seorang mukmin bekerja sebaik mungkin karena itu adalah perintah Allah. Namun, ia tetap tenang apabila hasilnya belum sesuai harapan karena ia yakin bahwa Allah tidak akan pernah salah dalam membagikan rezeki kepada hamba-Nya. Ketenangan ini bukan berasal dari besarnya saldo rekening, tetapi dari besarnya kepercayaan kepada Rabb semesta alam.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa kuat keyakinannya kepada Allah saat bekerja mencari rezeki. Sebab rezeki bukan hanya tentang apa yang masuk ke dalam genggaman tangan, tetapi juga tentang keberkahan yang memenuhi hati dan kehidupan.
Ketika tauhid diteguhkan, kecemasan akan berkurang. Ketika ikhtiar dilakukan dengan benar, pintu-pintu karunia akan terbuka. Dan ketika keduanya berpadu, seorang mukmin akan memahami bahwa bekerja adalah ibadah, rezeki adalah anugerah, dan semua perjalanan hidup pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb