Pandangan serupa juga dijelaskan para ulama tafsir klasik. Dalam karya-karya tafsir yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syirazi, dijelaskan bahwa perintah berjalan di muka bumi menunjukkan kewajiban manusia untuk menjemput rezeki melalui usaha yang halal, tanpa menggantungkan hidup kepada manusia lain. Allah telah menjamin adanya rezeki, tetapi manusia tetap diperintahkan menempuh sebab-sebab yang telah Allah ciptakan sebagai bagian dari sunnatullah.
Yang menarik, setelah ayat tentang ikhtiar mencari rezeki, Allah langsung melanjutkan dengan firman-Nya:
"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga tiba-tiba bumi itu berguncang?" (QS. Al-Mulk [67]: 16).
Kemudian Allah berfirman lagi:
"Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana akibat mendustakan peringatan-Ku." (QS. Al-Mulk [67]: 17).
Susunan ayat ini sangat indah. Setelah memerintahkan manusia bekerja, Allah justru mengingatkan bahwa seluruh hasil usaha tetap berada di bawah kekuasaan-Nya. Seolah Allah ingin mengatakan bahwa manusia wajib bekerja, tetapi jangan pernah menggantungkan harapan kepada pekerjaannya.
Manusia wajib berusaha, tetapi jangan pernah menyandarkan hidup kepada usahanya. Sebab yang menentukan hasil bukanlah semata-mata kecerdasan, modal, jabatan, ataupun relasi, melainkan kehendak Allah SWT.
Inilah hakikat tawakal yang sering disalahpahami. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, sebagaimana ikhtiar bukan berarti melupakan Allah. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Al-Qur'an bahkan mengajarkan bahwa setiap tujuan memiliki jalan ikhtiarnya masing-masing. Allah tidak hanya memberikan harapan, tetapi juga menunjukkan langkah-langkah praktis untuk meraihnya.
Pertama, apabila seseorang menginginkan rezeki, maka ikhtiarnya adalah “berjalan di muka bumi. Artinya, manusia harus aktif, produktif, bekerja, belajar, berdagang, bertani, berwirausaha, atau melakukan aktivitas yang halal. Islam tidak mengenal budaya berpangku tangan.
Kedua, apabila seseorang menginginkan ampunan Allah, maka Al-Qur'an menggunakan kalimat "wa sāri'ū ilā maghfiratin" ("Bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu", (QS. Ali 'Imran: 133).
Kata “sāri'ū menunjukkan bahwa taubat tidak boleh ditunda. Semakin cepat kembali kepada Allah, semakin besar peluang memperoleh rahmat-Nya.
Ketiga, apabila seseorang ingin selalu mengingat Allah, maka jalan yang Allah ajarkan adalah memperbanyak zikir. Firman-Nya:
"Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41).
Bukan zikir sesekali, melainkan zikir yang terus-menerus hingga hati menjadi tenang. Dalam kondisi ekonomi sesulit apa pun, hati yang dipenuhi zikir tidak akan mudah dikuasai rasa panik.