news

Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan

Minggu, 26 Juli 2026 | 23:10 WIB
Meneguhkan Tauhid atas Rezeki: Ketika Ikhtiar Bertemu dengan Keyakinan

Oleh: Rohmat Rospari

VoxYouths.com - Di tengah ketidakpastian ekonomi, persaingan dunia kerja yang semakin ketat, dan derasnya arus informasi yang kerap menghadirkan kecemasan, satu pertanyaan mendasar muncul dalam benak banyak orang: Apakah rezeki saya akan cukup?

Kekhawatiran ini menjadi fenomena yang tidak hanya melanda masyarakat perkotaan, tetapi juga mereka yang tinggal di pedesaan. Ironisnya, semakin maju peradaban, semakin tinggi pula tingkat kecemasan manusia terhadap masa depannya.

Padahal, Islam sejak empat belas abad yang lalu telah memberikan fondasi yang kokoh tentang bagaimana seorang mukmin memandang rezeki. Persoalan rezeki bukan semata-mata persoalan ekonomi, melainkan persoalan akidah dan tauhid. Seberapa besar keyakinan seseorang kepada Allah akan tercermin dari bagaimana ia memandang rezeki yang sedang atau belum ia peroleh.

Dalam kitab Al-Hikam, Imam Ibnu 'Athaillah As-Sakandari memberikan tamparan spiritual yang sangat relevan hingga hari ini. Beliau berkata:

"Mengapa engkau bersungguh-sungguh terhadap sesuatu yang telah dijamin untukmu, sementara engkau lalai terhadap sesuatu yang dituntut darimu?"

Dalam redaksi lain dijelaskan bahwa manusia sering kali menghabiskan energi untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya telah Allah tetapkan baginya, yaitu rezeki dunia, sementara ia justru tidak bersungguh-sungguh mengejar kehidupan akhirat yang dijanjikan kekal.

Hikmah ini bukanlah ajakan untuk meninggalkan pekerjaan atau berdiam diri menunggu datangnya rezeki. Sebaliknya, Imam Ibnu 'Athaillah sedang meluruskan orientasi hati. Yang dikritik bukanlah usaha, melainkan kecemasan yang berlebihan hingga melupakan Allah.

Banyak orang bekerja tanpa mengenal waktu, tetapi kehilangan ketenangan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana, namun penuh rasa syukur dan ketenteraman karena meyakini bahwa Allah adalah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Memberi Rezeki.

Keyakinan tersebut ditegaskan Allah dalam Surah Al-Mulk ayat 15:

"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu dibangkitkan."
(QS. Al-Mulk [67]: 15).

Ayat ini mengandung dua dimensi yang saling melengkapi: dimensi ikhtiar dan dimensi tauhid. Allah menggunakan kata dzalūlan, yang berarti bumi telah ditundukkan, dimudahkan, dan disediakan bagi kehidupan manusia. Gunung, lautan, tanah yang subur, hingga berbagai sumber daya alam merupakan bukti bahwa Allah telah menyiapkan "ruang kehidupan" bagi manusia.

Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa penggunaan kata ‘dzalūlan’ menunjukkan kasih sayang Allah kepada manusia. Bumi bukanlah tempat yang mustahil dihuni, melainkan lingkungan yang telah dipersiapkan agar manusia dapat bergerak, bekerja, berdagang, bertani, berlayar, dan mengembangkan peradaban.

Karena itu, perintah "famsyū fī manākibihā" (berjalanlah di segala penjurunya) bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi simbol dari kerja keras, kreativitas, mobilitas, dan kesungguhan dalam mencari karunia Allah.

Halaman:

Tags

Terkini