sastra

Novel "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck": Cinta, Adat, dan Tragedi di Pusaran Hindia Belanda

Sabtu, 28 Desember 2024 | 19:48 WIB
Novel

VoxYouths.Com - Hai VoxYours, yang suka banget baca novel romantis sekaligus menyentuh hati, VoxYouths mau ajak kalian menjelajahi novel lama yang kisahnya menarik perhatian sepanjang masa nih.

Well, kuy kita berlayar ke tahun 1938 lewat roman legendaris karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (lebih dikenal dengan Hamka), "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" yang penuh dengan drama, cinta terlarang, dan perjuangan melawan adat.

"Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" bercerita tentang Zainuddin, pemuda Minang campuran Arab yang cerdas dan religius.

Baca Juga: Mouly Surya Hadirkan Perang Kota: Adaptasi Epik dari Novel Jalan Tak Ada Ujung!

Namun, nasibnya kurang mujur. Karena statusnya sebagai peranakan, ia kerap menerima perlakuan nggak adil dari masyarakat Minang yang menganut adat matrilineal.

Zainuddin jatuh cinta sama Hayati, gadis Minang yang taat adat. Tapi hubungan mereka terhalang karena perbedaan status sosial. Zainuddin tidak memiliki keluarga besar yang mapan seperti yang diinginkan keluarga Hayati.

Singkat cerita, Zainuddin dan Hayati nekat kawin lari. Mereka kabur ke Padang Panjang dan memutuskan berlayar ke Batavia menggunakan kapal Van der Wijck.

Namun, pelayaran mereka penuh malapetaka. Kapal Van der Wijck mengalami kecelakaan dan karam di tengah laut.

Baca Juga: 5 Jurus Sakti Bikin Cerita Inspiratif yang Viral dan Mengena di Hati, Bikin Pembaca Kepincut!

Konflik dan Pergulatan Batin

Buya Hamka nggak cuma gambarin kisah cinta yang tragis, tetapi juga menyoroti masalah sosial yang terjadi pada masa itu. Zainuddin digambarkan sebagai sosok yang terpinggirkan karena statusnya sebagai peranakan.

Hayati, walaupun berasal dari keluarga berada, juga mengalami tekanan adat yang kuat. Dia nggak bisa bebas menentukan jodohnya sendiri.

Kritik Sosial yang Tajam

"Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" juga bisa dilihat sebagai kritik Buya Hamka terhadap adat Minang yang dianggap terlalu mengekang.

Selain itu, novel ini menyindir praktik kolonialisme Belanda yang menciptakan jurang pemisah antara pribumi dan orang Eropa.

Baca Juga: Jangan Salahkan Aku Selingkuh Ternyata Diadaptasi dari Novel! Ini Dia Aslinya!

Halaman:

Tags

Terkini