Tapi, Ada Tantangannya Juga
Pake AI buat kampanye emang keren, tapi ada hal-hal yang harus diperhatiin:
- Masalah etika
- Masalah hukum
- Harus tetep hormatin hak dan kewajiban kandidat, pemilih, dan masyarakat
- Harus sesuai sama aturan yang berlaku
Di Indonesia, udah ada Surat Edaran Menteri Kominfo Nomor 9 tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial.
Baca Juga: ITB Gelar Workshop Kalibrasi Ultrasonografi di World Metrology Day 2024, USG Makin Canggih!
Intinya, pake AI harus bertanggung jawab dan sesuai nilai-nilai Pancasila.
Gimana di Negara Lain?
Amerika Serikat
Di AS, kampanye pake AI boleh-boleh aja.
Tapi, mereka khawatir sama orang-orang jahat yang bisa nyalahgunain AI.
Beberapa hal yang dilakuin:
- Sejak 2019, mulai ada pembatasan video deepfake
- Tahun 2024, udah ada 100 RUU tentang AI dan pesan politik
- 14 RUU udah disahkan
Aturannya gimana?
- Harus jelasin jenis media apa yang pake AI
- Wajib ngasih tau kalo pake AI
- Nggak boleh pake pesan politik yang dibikin AI menjelang pemilihan
- Harus ngasih tau metadata
Inggris
Di Inggris malah ada yang lebih ekstrem.
Ada pengusaha namanya Steve Endacott yang bikin AI Steve, kandidat AI pertama yang mau jadi anggota parlemen.
Gimana caranya?
- AI Steve bakal jawab pertanyaan dan kekhawatiran warga
- Pake suara dan avatar Endacott
- Bisa diakses 24/7
Sayangnya, AI Steve gagal maju pemilihan karena partainya telat daftar.
Jadi, AI Bakal Ganti Politisi Beneran?
Nggak juga sih. AI emang bisa bantu bikin kampanye jadi lebih keren dan efektif.
Tapi tetep aja, yang namanya politik itu butuh sentuhan manusia.
Yang penting, kita sebagai pemilih harus pinter-pinter milih.