VoxYouths.com - Sampah plastik menjadi permasalahan global yang kian serius. Jutaan ton plastik berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), mencemari laut, dan mengancam ekosistem.
Di tengah keprihatinan ini, muncul solusi cerdas bernama Ecobrick yang dicetuskan oleh Russell Maier, seorang desainer regeneratif asal Kanada yang kala itu tinggal di Filipina.
Pada tahun 1990-an, ia melihat banyaknya sampah plastik yang mencemari lingkungan.
Lahirlah ide untuk memanfaatkan botol plastik bekas menjadi bata alternatif yang ramah lingkungan.
Ecobrick adalah brotol plastik padat yang diisi dengan sampah plastik padat dan bersih lainnya hingga padat.
Sampah plastik yang bisa digunakan misalnya sachet bekas, kemasan kopi instan, ataupun potongan plastik lainnya.
Setelah terisi penuh dan padat, botol plastik tersebut dapat difungsikan sebagai batu bata untuk membangun berbagai struktur.
Ecobrick menawarkan solusi cerdas dalam pengelolaan sampah plastik.
Selain mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA, ecobrick juga memiliki beberapa manfaat lainnya, seperti:
Mengubah sampah menjadi bahan bangunan: Ecobrick dapat digunakan untuk membangun berbagai struktur seperti dinding, pagar, hingga furnitur.
Membangun struktur yang kuat dan tahan lama: Para praktisi ecobrick telah membuktikan bahwa struktur yang dibangun dari ecobrick dapat kuat dan tahan lama.
Meningkatkan kesadaran lingkungan: Gerakan ecobrick membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengelola sampah plastik dengan bijak.
Meskipun lahir di Filipina, gerakan ecobrick telah menyebar ke berbagai negara di dunia.
Indonesia sendiri tercatat sebagai negara pertama yang secara formal mengadopsi ecobrick sebagai strategi pemerintah dalam mengatasi permasalahan plastik.
Kabupaten Batang di Jawa Tengah juga dilaporkan sebagai daerah tingkat dua dengan pemanfaatan ecobrick tertinggi di dunia.